Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

caper | catatan perjalanan rach
 

 

 

 
 
 

 


Google


chat dengan rach

 

 






 

 

 

 

 


.:: WALAH!KATAASINGSEMUA ::.


 

Kita hidup dengan pola hidup dan pola pikir dalam tiga bentuk dasar, konsisten, fleksibel dan persisten. Saat seseorang meyakini jalur hidupnya harus berdagang maka ia akan berdagang untuk kehidupannya, begitu pula seorang buruh, karyawan, birokrat, pengusaha dan lain-lainnya. Manusia mengambil konsistensi pikirannya sebagai sesuatu yang ideal baginya. Hingga suatu saat konsistensi itu harus diredam agar lebih fleksibel, tanpa mengurangi kadar konsistensi karena ada konsistensi lain yang lebih besar, yang lebih esensial.

 

Rentang waktu menjadi penilaian konsistensi seseorang. Saat orang dalam rentang waktu yang pendek orang berubah-rubah pikirannya, orang akan mengatakan bunglon. Tak punya konsistensi jika menyangkut pengambilan keputusan besar. Disebut moody atau angin-anginan untuk hal-hal yang sepele. Biar keren diaku sebagai fleksibel, agar ada faktor narsisisme sedikit.

 

Konsisten untuk diri sendiri bukanlah hal sulit, karena di situ salah satu ego manusia. Juga menjadi jati diri dilihat orang lain, lebih besar lagi menjadi sebuah kehormatan diri. Konsistensi menjadi rumit saat bersinggungan dengan orang lain. Terjadi benturan konsistensi, benturan ego. Saat konsistensi bertahan meski berbenturan dengan hal lain, tak peduli berakibat buruk, orang mengatakannya sebagai persistensi. Persistensi sering dianggap buruk karena berdasar pada konsep “tak ada kompromi”. Sangat kecil kemungkinan fleksibilitasnya. Tirani yang terjadi jika berada pada kekuasaan tunggal.

 

Dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak berhadapan dengan konsistensi dan fleksibilitas. Persistensi hanya dianggap kegilaan, walau kadang kegilaan berdekatan dengan kejeniusan. Apa yang membuat manusia hidup di atas konsistensi sekaligus fleksibilitas adalah komitmen. Komitmen yang membuat orang konsisten atas suatu hal, di atas rasa, pikiran dan aksi, sekaligus menjadi jalan untuk orang bersifat fleksibel.

 

Namun ada kalanya komitmen pun bisa berubah. Termasuk komitmen antar manusia, antar keluarga, antar perempuan dan laki-laki dan sebagainya, baik informal pertemanan dan persahabatan atau yang bersifat formal dalam kelembagaan, di dalam perusahaan, organisasi, kemasyarakatan hingga lembaga pernikahan.

 

Hampir semua manusia mengikat diri dalam komitmen antar manusia sebagai bentuk kebutuhan yang mendasar. Komitmen dijunjung tinggi meski tak menyisihkan komitmen religius. Saya sisihkan mereka yang agnostik dan atheis dalam konteks ini, sebab saya tak mampu berpikir seperti seorang agnostik atau seorang atheis berpikir.

 

Komitmen jauh lebih dijunjung tinggi daripada sebuah janji. Ingkar janji untuk hal sepele saja sudah dianggap bersifat buruk, apalagi hilangnya komitmen. Komitmen merupakan kontemplasi rasa, pikiran, keinginan, kebutuhan dan harapan. Sesuatu yang besar untuk modal hidup, mulus atau kasar jalan yang tempuh bukan masalah. Wereng, tikus, ijon, tengkulak dan sebagainya bukanlah hambatan seorang petani menjadi petani, karena ia sudah berkomitmen menjadi seorang petani, atas dasar segala rasa, pikiran, kebutuhan dan keinginannya.

 

Apa jalan terbaik saat komitmen diguncang-guncang?Orang lain yang mengguncang bukanlah masalah, berkomitmen adalah sebuah harga diri.

Bagaimana jika yang mengguncang adalah salah satu dari dua orang yang berkomitmen bersama?

Kompromi. Meski kompromi adalah sebuah upaya konsisten dengan cara fleksibel di atas jalan setapak yang berbatu dan beronak.


 

***

21 September 2007

 

 

POST A COMENT | VIEW COMMENT

 

 
 

.:: HOME | TENTANGRACH | GERENTESHATE | COCORETAN | KATABIJAK | NASHEED | ALBUM | BUKUTAMU ::.


 

 

 copyright © rach2006 | all right reserved