|

.:: WALAH!KATAASINGSEMUA
::.
Kita
hidup dengan pola hidup dan pola pikir dalam tiga bentuk dasar,
konsisten, fleksibel dan persisten. Saat seseorang meyakini jalur
hidupnya harus berdagang maka ia akan berdagang untuk kehidupannya,
begitu pula seorang buruh, karyawan, birokrat, pengusaha dan lain-lainnya.
Manusia mengambil konsistensi pikirannya sebagai sesuatu yang ideal
baginya. Hingga suatu saat konsistensi itu harus diredam agar lebih
fleksibel, tanpa mengurangi kadar konsistensi karena ada konsistensi
lain yang lebih besar, yang lebih esensial.
Rentang waktu menjadi penilaian konsistensi seseorang. Saat orang
dalam rentang waktu yang pendek orang berubah-rubah pikirannya,
orang akan mengatakan bunglon. Tak punya konsistensi jika menyangkut
pengambilan keputusan besar. Disebut moody atau angin-anginan untuk
hal-hal yang sepele. Biar keren diaku sebagai fleksibel, agar ada
faktor narsisisme sedikit.
Konsisten untuk diri sendiri bukanlah hal sulit, karena di situ
salah satu ego manusia. Juga menjadi jati diri dilihat orang lain,
lebih besar lagi menjadi sebuah kehormatan diri. Konsistensi menjadi
rumit saat bersinggungan dengan orang lain. Terjadi benturan
konsistensi, benturan ego. Saat konsistensi bertahan meski
berbenturan dengan hal lain, tak peduli berakibat buruk, orang
mengatakannya sebagai persistensi. Persistensi sering dianggap buruk
karena berdasar pada konsep “tak ada kompromi”. Sangat kecil
kemungkinan fleksibilitasnya. Tirani yang terjadi jika berada pada
kekuasaan tunggal.
Dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak berhadapan dengan
konsistensi dan fleksibilitas. Persistensi hanya dianggap kegilaan,
walau kadang kegilaan berdekatan dengan kejeniusan. Apa yang membuat
manusia hidup di atas konsistensi sekaligus fleksibilitas adalah
komitmen. Komitmen yang membuat orang konsisten atas suatu hal, di
atas rasa, pikiran dan aksi, sekaligus menjadi jalan untuk orang
bersifat fleksibel.
Namun ada kalanya komitmen pun bisa berubah. Termasuk komitmen antar
manusia, antar keluarga, antar perempuan dan laki-laki dan
sebagainya, baik informal pertemanan dan persahabatan atau yang
bersifat formal dalam kelembagaan, di dalam perusahaan, organisasi,
kemasyarakatan hingga lembaga pernikahan.
Hampir semua manusia mengikat diri dalam komitmen antar manusia
sebagai bentuk kebutuhan yang mendasar. Komitmen dijunjung tinggi
meski tak menyisihkan komitmen religius. Saya sisihkan mereka yang
agnostik dan atheis dalam konteks ini, sebab saya tak mampu berpikir
seperti seorang agnostik atau seorang atheis berpikir.
Komitmen jauh lebih dijunjung tinggi daripada sebuah janji. Ingkar
janji untuk hal sepele saja sudah dianggap bersifat buruk, apalagi
hilangnya komitmen. Komitmen merupakan kontemplasi rasa, pikiran,
keinginan, kebutuhan dan harapan. Sesuatu yang besar untuk modal
hidup, mulus atau kasar jalan yang tempuh bukan masalah. Wereng,
tikus, ijon, tengkulak dan sebagainya bukanlah hambatan seorang
petani menjadi petani, karena ia sudah berkomitmen menjadi seorang
petani, atas dasar segala rasa, pikiran, kebutuhan dan keinginannya.
Apa
jalan terbaik saat komitmen diguncang-guncang?Orang lain yang
mengguncang bukanlah masalah, berkomitmen adalah sebuah harga diri.
Bagaimana jika yang mengguncang adalah salah satu dari dua orang
yang berkomitmen bersama?
Kompromi. Meski kompromi adalah sebuah upaya
konsisten dengan cara fleksibel di atas jalan setapak yang berbatu
dan beronak.
***
21
September 2007
POST A COMENT | VIEW COMMENT
|