chat
dengan rach




|

































































































































































|

.::
DUADORANGGURU
::.
Pernah kita menyadari bahwa dalam hidup ini kita dikelilingi oleh
dua orang guru? Jika guru adalah orang yang selalu memberi pelajaran
“lakukan yang ini” atau “jauhi yang seperti ini” dengan perbuatannya,
maka dua orang guru itu adalah orang baik dan orang buruk.
Orang baik adalah guru yang selalu mengajarkan kita kebaikan,
langsung maupun tidak, diminta maupun dengan inisiatif sendiri.
Dengan perbuatan mulianya, dia seolah-olah berkata kepada kita:
“lakukan yang ini.” Begitu pula dengan orang buruk, yang memberikan
pelajaran kepada kita tentang keburukan. Langsung maupun tidak,
diminta atau dengan niatnya sendiri, dengan perbuatan buruknya itu
orang buruk sesungguhnya sedang berkata kepada kita: “jangan lakukan
yang ini.”
Dua orang guru itu juga telah menunjukkan kepada kita risiko yang
mereka tanggung akibat perbuatan mereka. Orang baik memperlihatkan
bahwa berbuat baik itu pahit, meski buahnya terasa manis. Sebaliknya
orang buruk menunjukkan bahwa berbuat buruk itu manis, meski buahnya
pahit.
Orang baik akhirnya berkata, “ikuti saya” setelah ia sendiri
merasakan buah dari perbuatan baiknya (hatinya menjadi tenang).
Sementara orang buruk akhirnya berkata, “tinggalkan saya” setelah ia
sendiri merasakan akibat dari perbuatan buruknya (hatinya menjadi
gelisah). Dua perkataan yang berbeda ini sesungguhnya berasal dari
risiko yang diambil oleh mereka.
Orang baik sesunggunya ingin menjadi orang buruk, tetapi dia tidak
mau (karena melihat risiko yang harus ditanggung). Begitu juga orang
buruk, sesungguhnya ingin menjadi orang baik, tetapi dia tidak mau (karena
risiko rasa tenang harus ditempuh dengan perjuangan yang berat).
Sebagai murid, kita sesungguhnya diuntungkan oleh keadaan ini. Kita
tak perlu susah berpikir bagaimana caranya berbuat baik dan risiko
yang harus kita tanggung akibat perbuatan itu, sebagaimana kita tak
perlu susah berpikir bagaimana caranya berbuat buruk dan risiko yang
harus kita tanggung akibat perbuatan itu, karena kedua-duanya sudah
dicontohkan oleh kedua orang guru. Kalau berbuat baik akhirnya
mendatangkan rasa tenang, sebagaimana berbuat buruk yang
mendatangkan rasa gelisah, kita akhirnya tahu bahwa dua orang guru
itu pada hakikatnya adalah dua kekuatan besar yang terus-menerus
menghadang kita dalam kehidupan ini. Dan, yang mereka inginkan dari
kita cuma satu: memilih. Sekali memilih, baik atau buruk, risiko itu
ditanggung oleh kita, muridnya.
Sumber:
majalah Annida, entah edisi kapan!
POST A COMENT | VIEW COMMENT
|