|

.:: NASIHAT
::.
Saudaraku...
Kau datang dari tiada, datang hanya singgah sementara,
untuk mempersipakan diri menuju kehidupan abadi. tujuanmu bukan
disini, bukan untuk bermegah diri dan bersusah-susah memperkaya diri.
Dunia ini bukan tempat tinggal sebenarnya, dunia ini hanya untuk
mempersiapkan bekal. bekal yang akan kau bawa pulang ke negeri
asalmu, mau atau tidak, kau pasti akan dipaksa untuk meneruskan
perjalananmu
Saudaraku...
Mati bukanlah berakhirnya hidup, mati adalah
berpindahnya alam yang kita tinggali. mati adalah pintu yang paling
tipis, yang membatasi dunia dan akhiratmu. Sedikit saja kau
terpeleset, boleh jadi kau tersungkur menabrak pintu itu, setelah
kau mati barulah kau sadar.
Wahai saudaraku...
yang ingin selamat di akhirat nanti.
siapkan dirimu untuk menghadapi kehidupan yang dahsyat itu. jangan
kau abaikan keselamatanmu yang sesungguhnya
Saudaraku...
Di dunia ini banyak sekali contoh perjalanan manusia
yang bisa kau ambil sebagai perbandingan menempuh perjalanan di
akhirat nanti. kau perhatikan itu yang terlunta-lunta ditengah jalan
kehidupan. Kau amati itu, mereka yang kepayahan mencari kesenangan.
Kau tanyakan kepada mereka yang pernah menderita karena mengejar
harta. Kau tanyakan kepada mereka yang pernah sengsara. Bahkan kau
bisa belajar dari perjalanan hidupmu sendiri.
Kau amati terus wahai saudaraku...
orang yang menderita kelaparan berbulan-bulan. Kau
perhatikan itu, mereka yang yang mengungsi untuk menyelamatkan diri.
Kau juga boleh bertanya. Mengapa setiap orang yang
baru kembali dari perjalanan, suka ingin menceritakan suka duka
perjalanan yang baru dialami. Atau kalau ada orang yang melakukan
suatu perjalanan, pasti dia akan bertanya kepada orang lain yang
sudah melakukan perjalanan itu. Dia ingin mengetahui bagaimana
kiranya suka duka perjalanan yang akan ditempuh ini, apa saja
persiapan-persiapan yang harus dibawa agar tidak kesulitan dalam
perjalanan.
Atau setiap orang yang akan menempuh perjalan panjang,
apalagi perjalanan itu akan ditempuh berbulan-bulan, sudah pasti dia
mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya. Dia tidak ingin kehabisan
bekal, dia tidak ingin menderita dalam perjalanan, dia tidak ingin
kehausan dan kelaparan, dia tidak ingin terlunta-lunta dinegeri
orang.
Saudaraku...
Pernahkah engkau mendengar orang bertanya tentang
kehidupan abadi di akhirat? bukankah kehidupan itu diceritakan
langsung oleh pemiliknya?
Wahai engkau saudaraku yang memiliki rasa. Wahai
engkau yang berakal. Wahai engkau saudaraku yang tidak ingin
menderita dalam kehidupan di akhirat. Wahai engkau saudaraku yang
tidak ingin menyesal dalam penyesalan yang tidak pernah berkesudahan
Bagaimanapun sengsaranya perjalanan di dunia ini.
Betapapun sulitnya hidup ini, masih ada tempat untuk mencari
perlindungan, masih ada jalan keluar dari segala kesulitan dan masih
banyak pohon yang tumbuh. Banyak buah-buahan yang bisa dimkan.
Banyak air yang bisa diminum. Banyak kebutuhan kita yang tersedia
dimana-mana.
Kalau kehabisan bekal, ada kawan yang bisa membantu.
Kalau ada musibah ada saudara yang bisa menolong. Kalau ada yang
menderita sakit ada ada obat sebagai penawar dan ada keluarga
sebagai penghibur. Kalau lemah tak berdaya, kalau sakit semakin
parah, akan ada kendaraan yang membawa kerumah sakit.
Wahai saudaraku yang pernah menderita dalam hidup ini, wahai saudaraku yang pernah kelaparan, Wahai saudaraku yang pernah meraung-raung kesakitan, Wahai saudaraku yang pernah terlunta-lunta sepanjang
hari
Betapapun sakitnya di dunia ini, masih belum seberapa
bila dibandingkan dengan kesengsaraan akhirat
Mengapa saudaraku, berbulan-bulan engkau hanya mempersiapkan bekal untuk
dunia saja? Mengapa engkau lupakan yang akan kau bawa untuk
akhiratmu nan abadi? bukan sejuta tahun, bukan pula satu triliun
tahun, melainkan dalam waktu yang tak terbatas
Renungkan ini wahai saudaraku...
hidupmu hanya sebentar, berapapun lamanya kau tidak
abadi di dunia ini, kau pasti akan meneruskan perjalananmu menuju "kampung
abadi"
Kesana...,
Keakhirat, itulah tujuan kita semua
Alangkah ruginya hidupmu, kalau kalau kau tidak
memikirkan ini. Alangkah menyesalnya nanti, kalau kau tidak
memanfaatkan hidupmu untuk mempersiapkan bekal yang akan kau bawa
dalam menempuh perjalanan menuju kehidupan abadimu. Alangkah
sengsaranya nanti, kalau kau abaikan keselamatanmu yang sesungguhnya.
kaua akan menangis dalam tangisan yang berkepanjangan, kau akan
menyesal dalam penyesalan yang tak berkesudahan.
Manfaatkan hidupmu yang singkat ini untuk berbuat
kebajikan! tidak lama kau beramal, tidak juga susah kau berbakti,
tidak pula rugi kau dalam ibadah.
Kalaupun tujuh puluh tahun kau menderita karena
ibadah, biarlah menderita, tapi kau akan merasakan nikmat abadi
setelah matimu. Kau tidak akan menyesal. Kau malah akan berkata,
biar seribu tahun aku menderita di dunia karena mengharapkan ridha
ALLAH, sungguh semuanya tidak berarti apa-apa dibanding dengan
kesengsaraan akhirat.
Saudaraku...
Berulang-ulang dibakar di dunia ini dalam waktu
sehari saja, adalah siksa yang mengerikan, siksa yang menakutkan,
apa lagi dibakar berulang-ulang dalam api yang tiada akhir
***
26 Pebruari 2008
Untuk diriku dan dirimu
yang terlupa, renungkanlah!
POST A COMMENT | VIEW COMMENT
|