chat
dengan rach




|















































































































































































|

.::
LOWONGANDARITUHAN
::.
Apa yang harus kita lakukan dengan sebuah pengecualian? Ini
pertanyaan yang mendasar, sebab pengecualian adalah keputusan Tuhan
yang diambil setelah Dia melakukan generalisasi terhadap seluruh
manusia. Dalam hal kerugian, misalnya, Tuhan mengatakan innal insana
lafil khusr (sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi). Kalimat ini
mencerminkan generalisasi Tuhan terhadap kita, sekaligus juga
peringatan bahwa siapa saja, sepanjang dia manusia, memiliki potensi
merugi. Begitu juga ketika Tuhan memukul rata manusia sebagai
makhluk dengan anugerah penciptaan yang ahsani taqwim (sebaik-baik
penciptaan) seraya kemudian mencampakkannya ke asfala saafiliin (jurang
neraka).
Pengecualian yang kemudian Dia lakukan adalah dengan pertama-tama
menyebutkan ciri-ciri—dan pada umumnya ciri-ciri itu seragam:
illalladziina aamanuu (kecuali orang-orang yang beriman). Inilah
yang membuat pertanyaan di awal tulisan ini terasa mendasar, sebab
pengecualian menyangkut secara langsung nasib jangka panjang umat
manusia. Apalagi, setelah mengetahui efek generalisasi itu,
pertanyaan itu memberikan turunan yang menukik tajam: termasuk ke
manakah kita dikelompokkan? Apakah kita ada di dalam pengecualian
itu; atau sebaliknya?
Terasa makin berat saja pengecualian itu sebab Tuhan tidak secara
spesifik menyebutkan ciri komunitas kekecualian itu. Kata kuncinya
hanya iman dan amal saleh. Ini berarti siapa pun bisa dikecualikan
dan bisa juga tidak. Dengan demikian, pengecualian itu adalah
“lowongan” dari Tuhan kepada kita. Apakah kita sanggup memenuhi
kualifikasi yang diinginkan-Nya atau tidak?
Mengapa lowongan itu dibuka hanya untuk orang-orang yang beriman dan
beramal saleh? Ini tampaknya menyangkut mekanisme pemberdayaan
komunitas. Itulah mengapa selain iman dan amal saleh, Tuhan juga
menyebut ciri penyertaan yang lain seperti tawasau bilhaq wa tawasau
bisshabr (saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran), termasuk
garansi bagi komunitas pengecualian itu seperti falahum ajrun ghairu
mamnuun (bagi mereka pahala yang tiada putus).
Ini berarti, sekalipun orang-orang yang beriman juga termasuk
manusia yang berpotensi merugi, mereka telah memiliki cara untuk
mengeliminasi potensi itu sedemikian rupa. Dengan saling
mengingatkan dan menjaga, iman dan amal saleh dapat melanggengkan
mereka dalam komunitas pengecualian itu.
Nah, mumpung lowongan dari Tuhan belum ditutup, mari kita
mengirimkan lamaran.
Sumber:
majalah Annida, entah edisi kapan!
POST A COMENT | VIEW COMMENT
|