Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

caper | catatan perjalanan rach
 

 

 

 
 
 

 


Google


chat dengan rach

 

 






 

 

 

 

 

 


.:: LOWONGANDARITUHAN ::.


 

Apa yang harus kita lakukan dengan sebuah pengecualian? Ini pertanyaan yang mendasar, sebab pengecualian adalah keputusan Tuhan yang diambil setelah Dia melakukan generalisasi terhadap seluruh manusia. Dalam hal kerugian, misalnya, Tuhan mengatakan innal insana lafil khusr (sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi). Kalimat ini mencerminkan generalisasi Tuhan terhadap kita, sekaligus juga peringatan bahwa siapa saja, sepanjang dia manusia, memiliki potensi merugi. Begitu juga ketika Tuhan memukul rata manusia sebagai makhluk dengan anugerah penciptaan yang ahsani taqwim (sebaik-baik penciptaan) seraya kemudian mencampakkannya ke asfala saafiliin (jurang neraka).

Pengecualian yang kemudian Dia lakukan adalah dengan pertama-tama menyebutkan ciri-ciri—dan pada umumnya ciri-ciri itu seragam: illalladziina aamanuu (kecuali orang-orang yang beriman). Inilah yang membuat pertanyaan di awal tulisan ini terasa mendasar, sebab pengecualian menyangkut secara langsung nasib jangka panjang umat manusia. Apalagi, setelah mengetahui efek generalisasi itu, pertanyaan itu memberikan turunan yang menukik tajam: termasuk ke manakah kita dikelompokkan? Apakah kita ada di dalam pengecualian itu; atau sebaliknya?

Terasa makin berat saja pengecualian itu sebab Tuhan tidak secara spesifik menyebutkan ciri komunitas kekecualian itu. Kata kuncinya hanya iman dan amal saleh. Ini berarti siapa pun bisa dikecualikan dan bisa juga tidak. Dengan demikian, pengecualian itu adalah “lowongan” dari Tuhan kepada kita. Apakah kita sanggup memenuhi kualifikasi yang diinginkan-Nya atau tidak?

Mengapa lowongan itu dibuka hanya untuk orang-orang yang beriman dan beramal saleh? Ini tampaknya menyangkut mekanisme pemberdayaan komunitas. Itulah mengapa selain iman dan amal saleh, Tuhan juga menyebut ciri penyertaan yang lain seperti tawasau bilhaq wa tawasau bisshabr (saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran), termasuk garansi bagi komunitas pengecualian itu seperti falahum ajrun ghairu mamnuun (bagi mereka pahala yang tiada putus).

Ini berarti, sekalipun orang-orang yang beriman juga termasuk manusia yang berpotensi merugi, mereka telah memiliki cara untuk mengeliminasi potensi itu sedemikian rupa. Dengan saling mengingatkan dan menjaga, iman dan amal saleh dapat melanggengkan mereka dalam komunitas pengecualian itu.

Nah, mumpung lowongan dari Tuhan belum ditutup, mari kita mengirimkan lamaran.

 

 

 

Sumber:

majalah Annida, entah edisi kapan!

 

 

POST A COMENT | VIEW COMMENT

 

 
 

.:: HOME | TENTANGRACH | GERENTESHATE | COCORETAN | KATABIJAK | NASHEED | ALBUM | BUKUTAMU ::.


 

 

 copyright © rach2006 | all right reserved