Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

caper | catatan perjalanan rach
 

 

 

 
 
 

 

Google


KapanLagi.com

Image Hosting


 



 

 

 

 

 

 


.:: MASADEPAN=HARAPAN ::.


 

Hari ini, rabu tanggal 9 November 2006. sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan hari ini, karena memang hari ini bukan hari kartini ataupun hari pahlawan (hari pahlawanmah besok kalee), tapi bagi kawan-kawan saya yang diwisuda bilang hari ini adalah hari yang bersejarah bagi hidup mereka, pun bagi saya juga demikian sebenarnya, karena sayapun ada diantara mereka, ketika lambaian tali topi (toga) dipindahkan dari sebelah kiri kesebelah kanan, pada saat itu pula saya resmi menyadang gelar sarjana pendidikan, kini sayapun bisa menambahkan tulisan SPd. dibelakang nama.

 

setelah diwisuda kamu mau kemana? mau jadi apa? jadi guru, pengusaha atau apa? sudahkah kamu merencanakan masa depan? itulah kira-kira pertanyaan kawan-kawan saya, ibu, ayah, adik, yah saya ditanya tentang masa depan, yang saya sendiri ga tau apa di benak mereka tentang masa depan, apakah ia semata-mata sekadar masa setelah masa kini? Apakah di depan masa depan masih ada masa depan lagi? Sejauh mana saya, anda, mereka (kita), bisa mendefinisikan bagian tertentu dari hidup sebagai masa depan? Lalu, absahkah ia dimaknakan sebagai masa depan?

Kalau saya (sebagai orang awam) boleh berpendapat, barangkali masa depan merupakan cermin bahwa kita masih memiliki harapan. Apa yang lebih penting daripada harapan? Menurut saya tidak ada, karena harapanlah yang menjadi dasar mengapa kita hidup di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Harapan pula yang menggerakkan setiap orang untuk mau menerima risiko kehidupan, seberapa pun besarnya, karena kita percaya bahwa harapan akan menggantikan semua yang telah kita keluarkan dengan sesuatu yang lebih besar dan berarti.

Dan karena kita tak daya melawan arus kehidupan yang bergerak ke depan, bukan ke belakang, maka mau tak mau kita harus menempatkan harapan itu sebagai sesuatu yang berdiri di depan sana. Dia menanti, menyosong, dan merangkul saat kita berlari, tidak sekadar berjalan, ke depan untuk mengejarnya—sekalipun yang menempatkan masa depan itu kita sendiri. Tetapi, apa benar kitalah yang menempatkan masa depan? Lantas, seberapa percayakah kita kepada kehidupan di masa yang akan datang?

Pertanyaan tentang masa depan ini jadi begitu memusingkan, itu karena saya sendiri, mungkin anda, mereka juga demikian bingung apa sebenarnya masa depan itu. Jika ia adalah kehidupan di masa mendatang, kehidupan masa yang manakah itu? Kalau kita masih bayi, apakah masa depan kita adalah ketika kita menjadi remaja? Kalau kita jadi remaja apakah masa depan itu ketika kita jadi dewasa? Begitu juga kalau kita jadi dewasa apakah masa depan kita adalah ketika kita jadi tua? Kalau begitu, apakah masa depan adalah masa yang kita namakan begitu saja semau kita tanpa pernah kita bisa mendefinisikannya? Lantas bagaimana dengan mereka yang tidak sempat menjadi remaja, dewasa, dan tua berhubung yang bersangkutan sudah meninggal lebih dulu? sebagai contoh seorang erly, yang dipanggil tuhan pada masa mudanya, pada saat ia baru lulus kuliah, kalau masa depan adalah masa tua, apakah ia sempat mencicipi masa depan? Di manakah masa depan Erly?

Kalau saya boleh berpendapat lagi, masa depan itu ternyata memang bukan di sini, bukan di dunia fana ini maksudku, melainkan di sana, di akhirat, dikehidupan yang abadi yang tida akhir, apakah surga, atau nerakakah?

 

 

 

 

9 November 2006

di balik dahi yang mengkerut

 

 

POST A COMENT | VIEW COMMENT

 

 
 

.:: HOME | TENTANGRACH | GERENTESHATE | COCORETAN | KATABIJAK | NASHEED | ALBUM | BUKUTAMU ::.


 

 

 copyright © rach2006 | all right reserved